Tampilkan postingan dengan label laporan praktikum biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan praktikum biologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2019

LAPORAN BIOLOGI ACARA V PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

 BAB I
PENDAHULUAN
Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik), dan terjadi karena adanya pertambahan jumlah sel dan pembesaran dari tiap-tiap sel. Pada proses pertumbuhan biasa disertai dengan terjadinya perubahan bentuk. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Perkembangan adalah proses menuju dewasa. Proses perkembangan berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan proses yang tidak dapat diukur. Pada tumbuhan, hal itu ditandai dengan terbentuknya bunga. Pada tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi. Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan. Struktur yang pertama muncul, yang menyobek selaput biji adalah radikula yang merupakan calon akar primer. Radikula adalah bagian dari hipokotil. Pada bagian ujung sebelah atas terdapat epikotil (calon batang). Berdasar letak kotiledonnya, ada dua jenis perkecambahan yaitu tipe epigeal, dan tipe hipogeal.
            Tujuan dari praktikum pengenalan pertumbuhan dan perkembangan dalah untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan pada biji jagung dan biji kacang hijau yang ditanam dengan urutan periode 4 minggu dengan selisih 1 minggu.
BAB II
MATERI DAN METODE
            Praktikum biologi dengan materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dilaksanakan pada hari Senin, 11 November 2013  pukul 11.00 - 13.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
2.1.      Materi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah paku yang berfungsi untuk melubangi gelas plastik yang akan dijadikan sebagai tempat untuk menanam tanaman jagung dan kacang hijau, mistar yang digunakan untuk mengukur panjang dan tinggi tanaman, jangka sorong yang berfungsi untuk mengukur diameter batang tanaman jagung dan kacang hijau, dan alat tulis yang digunakan untuk mencatat hasil pengamatan. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah gelas plastik yang digunakan sebagai tempat penanaman bibit tanaman jagung dan kacang hijau, kapas yang digunakan sebagai media tumbuh bagi bibit tanaman jagung dan kacang hijau, air yang digunakan untuk membasahi kapas agar perkecambahan dapat berlangsung, biji tanaman jagung dan kacang hijau yang digunakan sebagai bibit tanaman yang akan dilakukan pengamatan.
2.2.      Metode
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah pada saat penanaman biji kecambah tanaman jagung dan kacang hijau,  menyiapkan gelas plastik yang sudah tidak terpakai, melubangi bagian bawah botol dengan menggunakan paku agar air dapat meresap keluar apabila berlebih. Memasukan kapas ke dalam gelas plastik yang sudah dilubangi. Menambahkan air pada kapas yang telah dimasukan ke dalam  gelas plastik. Memberi tanggal penanaman pada gelas plastik yang dijadikan tempat penanaman. Menyemaikan biji benih tanaman jagung dan kacang hijau pada masing-masing gelas plastik yang telah disiapkan. Pada penanaman minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat menggunakan cara yang sama dengan metode penanaman pada minggu pertama. Metode yang digunakan dalam mengamati dan mengukur tanaman hasil penanaman adalah mengeluarkan tanaman dari dalam gelas plastikmelepaskan akar tanaman dari kapas. Mengukur panjang akar, tinggi tanaman, dan jumlah daun dengan menggunakan penggaris dan jangka sorong. Mencatat hasil pengukuran pada buku laporan sementara.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.      Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Jagung
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung diperoleh hasil sebagai berikut:

Ilustrasi 1. Tanaman Jagung Umur Ke 1, 2 , 3 dan ke 4 minggu
Tabel 1. Hasil pengamatan tanaman jagung minggu ke 1-4 
Umur tanaman
Tinggi tanaman
Jumlah daun
Panjang akar
1 minggu
6 cm
2 helai
8,5 cm
2 minggu
11 cm
3 helai
12 cm
3 minggu
15,5 cm
3 helai
14 cm
4 minggu
20 cm
4 helai
18 cm




Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2013.

 Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2013.


Ilustrasi 2. Grafik hasil pengamatan pertumbuhan tanaman jagung
            Pada awal pertumbuhan tanaman jagung ditandai dengan keluarnya bagian kaleoptil atau radikula dari dalam biji kecambahHal ini sesuai dengan pendapat Campbell,et al., (1999) yang menyatakan bahwa organ yang pertama muncul dari biji yang berkecambah adalah radikula, yaitu akar embrionik yang akan terus memanjang. Dari radikula tersebut kemudian tumbuh akar dan batang yang memanjang setiap minggunya. Faktor lingkungan pertumbuhan dan perkembangan salah satunya adalah cahaya. Hal ini sependapat dengan Furqonita (2007) yang menyatakan bahwa cahaya merupakan factor lingkungan yang diperlukan untuk mengendalikan pertumbuhan dan  perkembangan pada tumbuhan. Cahaya diperlukan dalam proses fotosintesis. Pengendalian perkembangan oleh cahaya disebut fotomorgenesis.

2.2.      Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kacang Hijau
           Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau diperoleh hasil sebagai berikut:
Sumber : Data primer praktikum biologi, 2013.
Ilustrasi 4. Grafik pengamatan pertumbuhan tanaman kacang hijau
                 Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau dari minggu ke minggu pada akar dan batang tanaman kacang hijau tersebut terjadi pemanjangan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti makanan (nutrisi), cahaya, air, suhu. Suhu merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Karmana (2006) yang menyatakan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan karena berkaitan dengan aktivitas enzim dan kandungan air dalam tubuh tumbuhan. Semakin tinggi aktivitas enzim dan kandungan air dalam tubuh tumbuhan. Semakin tinggi suhu, semakin cepat laju transpirasi dan semakin rendah kandungan air pada tumbuhan sehinga proses pertumbuhan semakin lambat. Hal ini diperkuat oleh pendapat Irianto (2008) yang menyatakan bahwa cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tumbuhan sangat membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis, namun keberadaan cahaya juga dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan karena cahaya dapat merusak hormon auksin yang terdapat pada ujung batang.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.     Simpulan
           Proses pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman jagung (Zea mays) dan kacang hijau (Arachis hipogaea) dimulai dari proses perkecambahan. Pada perkecambahan muncul radikula dan plumula yang nantinya akan membentuk akar, batang, dan daun. Pada tanaman jagung dan kacang tanah semakin bertambahnya umur semakin bertambah pula ukuran dan biomassa tanaman. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas jaringan meristem yang aktif membelah untuk memperbanyak jumlah sel. Proses pertumbuhan tanaman kacang akan membentuk kurva sigmoid dimana ada fase pertumbuhan cepat, disusul dengan fase konstan dan diakhiri fase penurunan. Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh faktor genetik, sistem hormonal, cahaya, suhu dan kelembapan udara.
3.2.     Saran
           Saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini adalah dalam proses pengukuran bagian tanaman diharuskan dilakukan dengan teliti. Pada proses pengambilan akar dari kapas harus dilakukan dengan hati-hati agar akar yang akan diukur tidak putus.


DAFTAR  PUSTAKA
Campbell, N. A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 1999. Biologi. Penerbit Erlangga: Jakarta.

Furqonita, Deswaty.  2007. Seri IPA Biologi SMP kelas VIII. Yudhistira: Jakarta.

Iriyanto, S.Y dan Wasis. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTs Kelas VIII. Grasindo Media Pratama: Jakarta.

Karmana, Oman. 2006. Biologi SMA Kelas XI Semester  1. Grasindo Media Pratama: Jakarta.

LAPORAN BIOLOGI ACARA III FOTOSINTESIS





 BAB I
PENDAHULUAN
Fotosintesis merupakan suatu proses biologi yang kompleks, proses ini menggunakan energi dan cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yang terdapat dalam kloroplas. Seperti halnya mitokondria, kloroplas mempunyai membran luar dan membran dalam. Membran dalam mengelilingi suatu stroma yang mengandung enzim-enzim tang larut dalam struktur membran yang disebut tilakoid. Proses fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain air (H2O), konsentrasi CO2, suhu, umur daun, translokasi karbohidrat, dan cahaya. Tetapi yang menjadi faktor utama fotosintesis agar dapat berlangsung adalah cahaya, air, dan karbondioksidaFotosintesis sering didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan karbohidrat dan karbondioksida serta air yang dilakukan sel-sel yang berklorofil dengan adanya cahaya matahari yang disebabkan oleh oksigen (O2). Ada juga yang mengartikan fotosintesis dengan suatu peristiwa pengolahan atau pemasakan makanan yang terjadi pada daun dengan bantuan cahaya matahari.
Tujuan dari praktikum pengenalan fotosintesis adalah untuk mengetahui kandungan glukosa dalam daun, sebagai hasil dari fotosintesis yang berlangsung pada siang hari dengan bantuan cahaya matahari.
BAB II
MATERI DAN METODE
          Praktikum biologi dengan materi fotosintesis dilaksanakan pada hari Senin, 7 Oktober 2013 11.00 – 13.00  WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
2.1.    Materi
          Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah penjepit kertas yang berfungsi untuk menjepit aluminium foil pada daun yang akan dilakukan percobaan, cawan petri yang berfungsi untuk meletakkan daun yang telah direbus, beaker glass yang berfungsi untuk memanaskan alkohol dan merebus daun, lampu spirtus yang berfungsi untuk menghasilkan panas guna memanaskan alkohol, kaki tiga yang berfungsi untuk menyangga beaker glass pada saat pemanasan alkohol, pinset yang berfungsi untuk mengambil dan menekan-nekan daun pada saat perebusan, pipet tetes yang berfungsi untuk meneteskan larutan JKJ, dan alat tulis yang digunakan untuk menggambar setiap proses yang dilakukan pada saat praktikum. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kertas aluminium foil yang digunakan untuk menutup permukaan daun agar tidak terkena sinar matahari, alkohol yang digunakan untuk melarutkan klorofil yang ada pada daun, larutan JKJ yang digunakan sebagai larutan indikator untuk menentukan kandungan glukosa dalam daun, daun tanaman gamal sebagai daun yang akan dilakukan percobaan.
2.2.    Metode
          Metode yang dilakukan pada praktikum fotosintesis daun gamal tanpa ditutupi aluminium foil adalah dengan cara membiarkan daun selama 3 hari untuk tetap menjalankan proses kehidupannya. Setelah itu, mengambil daun tersebut untuk dilakukan percobaan. Langkah pertama adalah menyiapkan kaki tiga yang sudah diletakkan beaker glass di atasnya. Kemudian menuangkan alkohol sebanyak 20 ml ke dalam beaker glass. Menyalakan lampu spirtus dan meletakkannya di bawah kaki tiga sampai alkoholnya mendidih. Setelah alkohol mendidih, kemudian memasukkan daun ke dalam alkohol tersebut sampai klorofil larut. Setelah klorofil larut dan daun berubah warna menjadi putih, kemudian mengangkat daun tersebut dengan menggunakan pinset dan meletakkannya di dalam cawan petri. Setelah itu, meneteskan larutan JKJ pada permukaan daun secara merata dan mengamati perubahan warna yang terjadi.
          Setelah melakukan percobaan dengan daun yang tanpa alumunium foil, kemudian melakukan percobaan terhadap daun yang ditutupi dengan alumunium foil sebagian selama 3 hari selama daun tersebut masih pada pohonnya. Metodenya adalah mengambil daun gamal yang ditutupi kertas aluminium foil dan memasukkannya ke dalam alkohol yang telah dipanaskan sampai klorofilnya larut dan daun berubah warna menjadi putih. Setelah daun berubah warna menjadi putih kemudian mengangkat daun tersebut dan meletakkannya pada cawan petri. Setelah itu, meneteskan larutan JKJ ke atas permukaan daun sampai merata. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada permukaan daun.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.    Fotosintesis Daun Gamal tanpa Aluminium Foil
          Berdasarkan hasil praktikum fotosintesis daun gamal tanpa aluminium foil diperoleh hasil sebagai berikut:
Ilustrasi 5: Daun Setelah Ditetesi Larutan JKJ
              Berdasarkan hasil praktikum pada daun gamal tanpa ditutup aluminium foil pada permukaan daun, diperoleh hasil berupa perubahan warna pada seluruh permukaan daun menjadi warna hitam. Hal ini disebabkan daun gamal  mengandung glukosa yang bereaksi dengan larutan JKJ membentuk warna hitam. Glukosa tersebut dibentuk oleh daun melalui sebuah proses anabolisme yaitu proses fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Furqonita (2007) yang menyatakan bahwa fotosintesis adalah proses perubahan senyawa anorganik seperti air dan karbondioksida menjadi senyawa organik (gula atau glukosa) dengan bantuan sinar mataharihal ini sependapat dengan Susilowarno (2000) yang menyatakan bahwa reaksi gelap merupakan proses fiksasi CO2 untuk membentuk glukosa dengan menggunakan energi yang dihasilkan oleh reaksi terang.

3.2.      Fotosintesis Daun Gamal dengan Aluminium foil
            Berdasarkan hasil praktikum daun gamal dengan aluminium foil diperoleh hasil sebagai berikut:
Ilustrasi 10: Daun Setelah Ditetesi Larutan JKJ
              Berdasarkan hasil praktikum pada daun tanaman gamal dengan ditutup oleh kertas aluminium foil, diperoleh hasil berupa bagian daun yang ditutupi oleh aluminium foil setelah ditetesi larutan JKJ itu tidak mengalami perubahan warna. Tidak terjadi perubahan warna pada bagian daun ini dikarenakan larutan JKJ tidak bereaksi dengan glukosa yang merupakan hasil fotosintesis. Bagian daun tersebut tidak mengalami proses fotosintesis karena cahaya matahari tidak dapat diserap oleh klorofil daun tetapi dipantulkan kembali ke atmosphere oleh aluminium foil. Hal ini sesuai dengan pendapat Furqonita (2007) yang menyatakan bahwa reaksi gelap dapat berlangsung tanpa adanya cahaya matahari. Dalam tahap reaksi ini, terjadi pengikatan karbondioksida. Hal ini sesuai dengan pendapat Ariebowo (2007) yang menyatakan bahwa reaksi gelap merupakan tahap sebenarnya dalam pembuatan bahan makanan pada fotosintesis. Energi yang telah dihasilkan selama reaksi terang akan digunakan sebagai bahan baku utama pembentukan karbohidrat proses fiksasi CO2 di stroma.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.        Simpulan
              Daun tanaman gamal yang tidak ditutupi dengan aluminium foil dapat melakukan proses fotosintesis dengan baik sehingga dalam daun tersebut tersimpan glukosa. Perubahan warna pada daun itu disebabkan oleh reaksi antara larutan JKJ dengan glukosa. Daun tanaman gamal yang ditutup dengan aluminium foil tidak dapat melakukan proses fotosintesis karena klorofil daun tidak dapat menyerap cahaya matahari. Sehingga pada daun tidak terdapat glukosa. Tidak terjadinya perubahan warna pada daun gamal yang ditutupi aluminium foil itu disebabkan tidak adanya glukosa yang bereaksi dengan larutan JKJ. Cahaya matahari sangat penting bagi keberlangsungan proses fotosintesis.
4.2.      Saran
Proses perebusan daun pada alkohol panas harus dilakukan dengan merebus daun sampai daun berwarna putih atau klorofilnya larut. Diusahakan pula agar daun tidak terpanggang, jadi jumlah alkohol harus benar-benar diperhatikan.




DAFTAR PUSTAKA
Furqonita, Deswaty.  2007.  Seri IPA Biologi SMP Kelas VIII. Yudhistira: Jakarta.
 Susilowarno, Gunawan, R.Sapto Hartono, Th Enik Mutiharsih, Murtiningsih, dan Umiyati. 2000. Biologi SMA Untuk kelas XII. Grasindo: Jakarta.
Ariebowo, Moekti dan Fictor Ferdinand P. 2007. Praktis Belajar Biologi SMA/MA Kelas VII. Visindo Media Persada: Jakarta.ACARA III
FOTOSINTESIS




 BAB I
PENDAHULUAN
Fotosintesis merupakan suatu proses biologi yang kompleks, proses ini menggunakan energi dan cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan oleh klorofil yang terdapat dalam kloroplas. Seperti halnya mitokondria, kloroplas mempunyai membran luar dan membran dalam. Membran dalam mengelilingi suatu stroma yang mengandung enzim-enzim tang larut dalam struktur membran yang disebut tilakoid. Proses fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain air (H2O), konsentrasi CO2, suhu, umur daun, translokasi karbohidrat, dan cahaya. Tetapi yang menjadi faktor utama fotosintesis agar dapat berlangsung adalah cahaya, air, dan karbondioksidaFotosintesis sering didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan karbohidrat dan karbondioksida serta air yang dilakukan sel-sel yang berklorofil dengan adanya cahaya matahari yang disebabkan oleh oksigen (O2). Ada juga yang mengartikan fotosintesis dengan suatu peristiwa pengolahan atau pemasakan makanan yang terjadi pada daun dengan bantuan cahaya matahari.
Tujuan dari praktikum pengenalan fotosintesis adalah untuk mengetahui kandungan glukosa dalam daun, sebagai hasil dari fotosintesis yang berlangsung pada siang hari dengan bantuan cahaya matahari.
BAB II
MATERI DAN METODE
          Praktikum biologi dengan materi fotosintesis dilaksanakan pada hari Senin, 7 Oktober 2013 11.00 – 13.00  WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
2.1.    Materi
          Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah penjepit kertas yang berfungsi untuk menjepit aluminium foil pada daun yang akan dilakukan percobaan, cawan petri yang berfungsi untuk meletakkan daun yang telah direbus, beaker glass yang berfungsi untuk memanaskan alkohol dan merebus daun, lampu spirtus yang berfungsi untuk menghasilkan panas guna memanaskan alkohol, kaki tiga yang berfungsi untuk menyangga beaker glass pada saat pemanasan alkohol, pinset yang berfungsi untuk mengambil dan menekan-nekan daun pada saat perebusan, pipet tetes yang berfungsi untuk meneteskan larutan JKJ, dan alat tulis yang digunakan untuk menggambar setiap proses yang dilakukan pada saat praktikum. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kertas aluminium foil yang digunakan untuk menutup permukaan daun agar tidak terkena sinar matahari, alkohol yang digunakan untuk melarutkan klorofil yang ada pada daun, larutan JKJ yang digunakan sebagai larutan indikator untuk menentukan kandungan glukosa dalam daun, daun tanaman gamal sebagai daun yang akan dilakukan percobaan.
2.2.    Metode
          Metode yang dilakukan pada praktikum fotosintesis daun gamal tanpa ditutupi aluminium foil adalah dengan cara membiarkan daun selama 3 hari untuk tetap menjalankan proses kehidupannya. Setelah itu, mengambil daun tersebut untuk dilakukan percobaan. Langkah pertama adalah menyiapkan kaki tiga yang sudah diletakkan beaker glass di atasnya. Kemudian menuangkan alkohol sebanyak 20 ml ke dalam beaker glass. Menyalakan lampu spirtus dan meletakkannya di bawah kaki tiga sampai alkoholnya mendidih. Setelah alkohol mendidih, kemudian memasukkan daun ke dalam alkohol tersebut sampai klorofil larut. Setelah klorofil larut dan daun berubah warna menjadi putih, kemudian mengangkat daun tersebut dengan menggunakan pinset dan meletakkannya di dalam cawan petri. Setelah itu, meneteskan larutan JKJ pada permukaan daun secara merata dan mengamati perubahan warna yang terjadi.
          Setelah melakukan percobaan dengan daun yang tanpa alumunium foil, kemudian melakukan percobaan terhadap daun yang ditutupi dengan alumunium foil sebagian selama 3 hari selama daun tersebut masih pada pohonnya. Metodenya adalah mengambil daun gamal yang ditutupi kertas aluminium foil dan memasukkannya ke dalam alkohol yang telah dipanaskan sampai klorofilnya larut dan daun berubah warna menjadi putih. Setelah daun berubah warna menjadi putih kemudian mengangkat daun tersebut dan meletakkannya pada cawan petri. Setelah itu, meneteskan larutan JKJ ke atas permukaan daun sampai merata. Mengamati perubahan warna yang terjadi pada permukaan daun.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.    Fotosintesis Daun Gamal tanpa Aluminium Foil
          Berdasarkan hasil praktikum fotosintesis daun gamal tanpa aluminium foil diperoleh hasil sebagai berikut:
Ilustrasi 5: Daun Setelah Ditetesi Larutan JKJ
              Berdasarkan hasil praktikum pada daun gamal tanpa ditutup aluminium foil pada permukaan daun, diperoleh hasil berupa perubahan warna pada seluruh permukaan daun menjadi warna hitam. Hal ini disebabkan daun gamal  mengandung glukosa yang bereaksi dengan larutan JKJ membentuk warna hitam. Glukosa tersebut dibentuk oleh daun melalui sebuah proses anabolisme yaitu proses fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Furqonita (2007) yang menyatakan bahwa fotosintesis adalah proses perubahan senyawa anorganik seperti air dan karbondioksida menjadi senyawa organik (gula atau glukosa) dengan bantuan sinar mataharihal ini sependapat dengan Susilowarno (2000) yang menyatakan bahwa reaksi gelap merupakan proses fiksasi CO2 untuk membentuk glukosa dengan menggunakan energi yang dihasilkan oleh reaksi terang.

3.2.      Fotosintesis Daun Gamal dengan Aluminium foil
            Berdasarkan hasil praktikum daun gamal dengan aluminium foil diperoleh hasil sebagai berikut:
Ilustrasi 10: Daun Setelah Ditetesi Larutan JKJ
              Berdasarkan hasil praktikum pada daun tanaman gamal dengan ditutup oleh kertas aluminium foil, diperoleh hasil berupa bagian daun yang ditutupi oleh aluminium foil setelah ditetesi larutan JKJ itu tidak mengalami perubahan warna. Tidak terjadi perubahan warna pada bagian daun ini dikarenakan larutan JKJ tidak bereaksi dengan glukosa yang merupakan hasil fotosintesis. Bagian daun tersebut tidak mengalami proses fotosintesis karena cahaya matahari tidak dapat diserap oleh klorofil daun tetapi dipantulkan kembali ke atmosphere oleh aluminium foil. Hal ini sesuai dengan pendapat Furqonita (2007) yang menyatakan bahwa reaksi gelap dapat berlangsung tanpa adanya cahaya matahari. Dalam tahap reaksi ini, terjadi pengikatan karbondioksida. Hal ini sesuai dengan pendapat Ariebowo (2007) yang menyatakan bahwa reaksi gelap merupakan tahap sebenarnya dalam pembuatan bahan makanan pada fotosintesis. Energi yang telah dihasilkan selama reaksi terang akan digunakan sebagai bahan baku utama pembentukan karbohidrat proses fiksasi CO2 di stroma.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.        Simpulan
              Daun tanaman gamal yang tidak ditutupi dengan aluminium foil dapat melakukan proses fotosintesis dengan baik sehingga dalam daun tersebut tersimpan glukosa. Perubahan warna pada daun itu disebabkan oleh reaksi antara larutan JKJ dengan glukosa. Daun tanaman gamal yang ditutup dengan aluminium foil tidak dapat melakukan proses fotosintesis karena klorofil daun tidak dapat menyerap cahaya matahari. Sehingga pada daun tidak terdapat glukosa. Tidak terjadinya perubahan warna pada daun gamal yang ditutupi aluminium foil itu disebabkan tidak adanya glukosa yang bereaksi dengan larutan JKJ. Cahaya matahari sangat penting bagi keberlangsungan proses fotosintesis.
4.2.      Saran
Proses perebusan daun pada alkohol panas harus dilakukan dengan merebus daun sampai daun berwarna putih atau klorofilnya larut. Diusahakan pula agar daun tidak terpanggang, jadi jumlah alkohol harus benar-benar diperhatikan.




DAFTAR PUSTAKA
Furqonita, Deswaty.  2007.  Seri IPA Biologi SMP Kelas VIII. Yudhistira: Jakarta.
 Susilowarno, Gunawan, R.Sapto Hartono, Th Enik Mutiharsih, Murtiningsih, dan Umiyati. 2000. Biologi SMA Untuk kelas XII. Grasindo: Jakarta.
Ariebowo, Moekti dan Fictor Ferdinand P. 2007. Praktis Belajar Biologi SMA/MA Kelas VII. Visindo Media Persada: Jakarta.

LAPORAN BIOLOGI ACARA II PENGENALAN JARINGAN

 BAB I
PENDAHULUAN
Tumbuhan adalah tonggak dari sebagian besar ekosistem terestrial (daratan). Dalam mempelajari struktur dan fungsi organ tertentu, seseorang harus meninjau dari konteks tumbuhan secara kesuluruhan. Berdasarkan perkembangbiakan bijinya, pada umumnya tumbuhan terbagi menjadi dua golongan yaitu Gymnospermae dan Angiospermae.
Gymnospermae adalah tumbuhan berbiji terbuka di mana bijinya tidak tertutup oleh daun buah. Angiospermae adalah tumbuhan dengan ciri biji tertutup oleh daun buah dan dibedakan kedalam dua jenis yaitu dikotil dan monokotil. Tumbuhan dikotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua, contohnya kacang tanah, kacang hijau, mangga, dan lain sebagainya. Sedangkan, monokotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu misalnya kelapa, padi, bawang merah, dan masih banyak lagi.
Tujuan dilaksanakannya praktikum biologi mengenai jaringan ini adalah agar praktikan dapat jelas dalam membedakan bagian tumbuhan dan mengetahui fungsinya, selain itu juga untuk menambah pengetahuan mengenai macam-macam jaringan pada tumbuhan baik dikotil maupun monokotil, pada bagian batang maupun akar. Manfaat praktikum ini agar dapat membedakan tumbuhan monokotil dan dikotil melalui struktur tubuhnya.
BAB II
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 30 November 2013 pukul 11.00-13.00 WIB di Laboraturium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

2.1.      Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah batang jagung (Zea mays) sebagai tumbuhan monokotil yang akan diamati, dan akar kacang tanah (Arachis hipogea) sebagai tumbuhan dikotil yang akan diamati. Alat yang digunakan dalam praktikum biologi mengenai pengenalan jaringan tumbuhan meliputi silet untuk menyayat akar dan batang tumbuhan yang digunakan dalam praktikum, mikroskop untuk mengamati sel secara mikroskopis, kaca objek dan kaca penutup sebagai wadah meletakkan objek yang akan diamati, dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.
2.2 Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum biologi mengenai pengenalan jaringan tumbuhan adalah mengamati preparat awetan batang jagung (Zea mays) dan akar kacang tanah (Arachis hipogea) yang telah diletakkan pada mikroskop. Kemudian mengamatinya menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40X dan 100X pada batang tanaman jagung (Zea mays), dan 40X dan 100X pada akar kacang tanah (Arachis hipogea). Setelah itu mennggambar hasil pengamatan dalam buku laporan sementara.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.            Struktur Jaringan Batang Tanaman Jagung (Zea mays)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengenalan zaringan tumbuhan jagung (Zea maysdengan bantuan mikroskop perbesaran 40dan 100X  diperoleh hasil sebagai berikut:
  Ilustrasi 6 : Batang Tanaman Jagung (Zea mays)

Keterangan :
1.        Xylem
2.        Floem
3.        Epidermis

Berdasarkan hasil praktikum pengenalan jaringan tumbuhan pada pengamatan preparat batang tanaman jagung (Zea mays) perbesaran 40X dan 100X terlihat xylemfloem dan epidermis. Tanaman jagung (Zea mays) merupakan salah satu contoh tumbuhan dikotil. Pada tumbuhan dikotil memiliki kambium. Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa pada batang dikotil, antara xylem dan floem terdapat jaringan kambium, yang kemudian disebut kambium vaskulaer. Dengan adanya kambium vaskuler, batang tumbuhan dikotil dapat tumbuh membesar.  Hal ini sependapat dengan Irianto (2008) yang menyatakan bahwa pada ikatan pembuluh terdapat kambium yang terletak diantara xylem dan floem. Adanya kambium menyebabkan batang tumbuhan dikotil dapat membesar, hal ini disebabkan oleh aktivitas pembelahan sel dari jaringan meristem pada kambium.

3.2.            Struktur Jaringan Akar Kacang Hijau (Arachis hipogea)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengenalan jaringan tumbuhan kacang (Arachis hipogeadengan perbesaran 40X dan 100X diperoleh hasil sebagai berikut :
Ilustrasi 8 : Akar Kacang  (Arachis hipogea) pembesaran 100X
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Korteks
3.      Perisikel
4.      Endodermis
5.      Floem
6.      Xylem
Berdasarkan hasil praktikum pengenalan jaringan tumbuhan pada pengamatan preparat akar tanaman kacang (Arachis hipogea) perbesaran 40X dan 100X terlihat epidermis, korteks, perisikel, endodermis, floem dan xylem. Pada akar kacang tanah (Arachis hipogea) terdapat epidermis yang merupakan bagian dari tumbuhan yang terletak di bagian paling luar pada sebuah jaringan. Epidermis umumnya adalah suatu lapisan tunggal sel-sel yang terbungkus rapat yang menutupi dan melindungi semua bagian muda tumbuhan, “kulit” tumbuhan tersebut Campbell et al., (2003). Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa jaringan pelindung atau epidermis berfungsi melindungi permukaan tumbuhan. Sesuai dengan fungsinya, jaringan epidermis tersusun atas sel–sel yang rapat dan menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan.

1.2.            Perbedaan Tanaman Monokotil dan Dikotil
Berdasarkan pengamatan pada akar kacang tanah (dikotil) terlihat xylem mengumpul di bagian tengah silinder pusat, tersusun seperti bentuk bintang dengan empulur yang kecil atau tanpa empulur, sedangkan pada batang jagung (monokotil) terlihat xylem dan floem letaknya berselang-seling. Pada tumbuhan dikotil memiliki kambium yang berada diantara floem dan xylem. Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa pada batang dikotil, antara xylem dan floem terdapat jaringan kambium, yang kemudian disebut kambium vaskuler. Dengan adanya kambium vaskuler, batang tumbuhan dikotil dapat tumbuh membesar. Sedangkan pada tumbuhan monokotil tidak memiliki kambium. Hal ini sependapat dengan Irianto (2008) yang menyatakan bahwa batang monokotil umumnya tidak bercabang, tidak berkambium, dan beruas-ruas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.            Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum pengenalan jaringan tumbuhan dapat diketahui bahwa pada tanaman jagung (Zea mays) terlihat xylemfloem dan epidermis, sedangkan pada tanaman kacang (Arachis hipogea) dapat terlihat epidermis, korteks, perisikel, endodermis, floem dan xylem. Berdasarkan perbedaannya dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung (Zea mays) merupakan monokotil dan kacang tanah (Arachis hipogea) merupakan dikotil adalah pengaturan jaringan di dalam stele, kumpulan jaringan pembuluh, yang berbentuk suatu silinder dalam akar. Xylem dan floem juga bergantian didalam stele akar monokotil. Akan tetapi jaringan pembuluhnya mengelilingi suatu pusat dari sel-sel parenkim yang disebut empulur. Pada tumbuhan dikotil dan monokotil stele dikelilingi oleh endodermis, daerah paling dalam sel-sel korteks.
                                                                                                          
4.2.            Saran
Penulis mengajukan saran bahwa didalam melakukan praktikum harus mengefesiensikan waktu, ketepatan dan ketelitian dalam pengamatan. Penggunaan alat-alat yang digunakan dalam praktikum harus hati-hati karena terbatasnya peralatan.

DAFTAR PUSTAKA
Arisworo, D., Yusa, dan Nana Sutrisna. 2006. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VIII Jilid 2. Grafindo Media Pratama: Jakarta.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima-Jilid 1. Erlangga: Jakarta.



ACARA II
PENGENALAN JARINGAN








 BAB I
PENDAHULUAN
Tumbuhan adalah tonggak dari sebagian besar ekosistem terestrial (daratan). Dalam mempelajari struktur dan fungsi organ tertentu, seseorang harus meninjau dari konteks tumbuhan secara kesuluruhan. Berdasarkan perkembangbiakan bijinya, pada umumnya tumbuhan terbagi menjadi dua golongan yaitu Gymnospermae dan Angiospermae.
Gymnospermae adalah tumbuhan berbiji terbuka di mana bijinya tidak tertutup oleh daun buah. Angiospermae adalah tumbuhan dengan ciri biji tertutup oleh daun buah dan dibedakan kedalam dua jenis yaitu dikotil dan monokotil. Tumbuhan dikotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua, contohnya kacang tanah, kacang hijau, mangga, dan lain sebagainya. Sedangkan, monokotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu misalnya kelapa, padi, bawang merah, dan masih banyak lagi.
Tujuan dilaksanakannya praktikum biologi mengenai jaringan ini adalah agar praktikan dapat jelas dalam membedakan bagian tumbuhan dan mengetahui fungsinya, selain itu juga untuk menambah pengetahuan mengenai macam-macam jaringan pada tumbuhan baik dikotil maupun monokotil, pada bagian batang maupun akar. Manfaat praktikum ini agar dapat membedakan tumbuhan monokotil dan dikotil melalui struktur tubuhnya.
BAB II
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 30 November 2013 pukul 11.00-13.00 WIB di Laboraturium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

2.1.      Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah batang jagung (Zea mays) sebagai tumbuhan monokotil yang akan diamati, dan akar kacang tanah (Arachis hipogea) sebagai tumbuhan dikotil yang akan diamati. Alat yang digunakan dalam praktikum biologi mengenai pengenalan jaringan tumbuhan meliputi silet untuk menyayat akar dan batang tumbuhan yang digunakan dalam praktikum, mikroskop untuk mengamati sel secara mikroskopis, kaca objek dan kaca penutup sebagai wadah meletakkan objek yang akan diamati, dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.
2.2 Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum biologi mengenai pengenalan jaringan tumbuhan adalah mengamati preparat awetan batang jagung (Zea mays) dan akar kacang tanah (Arachis hipogea) yang telah diletakkan pada mikroskop. Kemudian mengamatinya menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40X dan 100X pada batang tanaman jagung (Zea mays), dan 40X dan 100X pada akar kacang tanah (Arachis hipogea). Setelah itu mennggambar hasil pengamatan dalam buku laporan sementara.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.            Struktur Jaringan Batang Tanaman Jagung (Zea mays)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengenalan zaringan tumbuhan jagung (Zea maysdengan bantuan mikroskop perbesaran 40dan 100X  diperoleh hasil sebagai berikut:
  Ilustrasi 6 : Batang Tanaman Jagung (Zea mays)

Keterangan :
1.        Xylem
2.        Floem
3.        Epidermis

Berdasarkan hasil praktikum pengenalan jaringan tumbuhan pada pengamatan preparat batang tanaman jagung (Zea mays) perbesaran 40X dan 100X terlihat xylemfloem dan epidermis. Tanaman jagung (Zea mays) merupakan salah satu contoh tumbuhan dikotil. Pada tumbuhan dikotil memiliki kambium. Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa pada batang dikotil, antara xylem dan floem terdapat jaringan kambium, yang kemudian disebut kambium vaskulaer. Dengan adanya kambium vaskuler, batang tumbuhan dikotil dapat tumbuh membesar.  Hal ini sependapat dengan Irianto (2008) yang menyatakan bahwa pada ikatan pembuluh terdapat kambium yang terletak diantara xylem dan floem. Adanya kambium menyebabkan batang tumbuhan dikotil dapat membesar, hal ini disebabkan oleh aktivitas pembelahan sel dari jaringan meristem pada kambium.

3.2.            Struktur Jaringan Akar Kacang Hijau (Arachis hipogea)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengenalan jaringan tumbuhan kacang (Arachis hipogeadengan perbesaran 40X dan 100X diperoleh hasil sebagai berikut :
Ilustrasi 8 : Akar Kacang  (Arachis hipogea) pembesaran 100X
Keterangan :
1.      Epidermis
2.      Korteks
3.      Perisikel
4.      Endodermis
5.      Floem
6.      Xylem
Berdasarkan hasil praktikum pengenalan jaringan tumbuhan pada pengamatan preparat akar tanaman kacang (Arachis hipogea) perbesaran 40X dan 100X terlihat epidermis, korteks, perisikel, endodermis, floem dan xylem. Pada akar kacang tanah (Arachis hipogea) terdapat epidermis yang merupakan bagian dari tumbuhan yang terletak di bagian paling luar pada sebuah jaringan. Epidermis umumnya adalah suatu lapisan tunggal sel-sel yang terbungkus rapat yang menutupi dan melindungi semua bagian muda tumbuhan, “kulit” tumbuhan tersebut Campbell et al., (2003). Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa jaringan pelindung atau epidermis berfungsi melindungi permukaan tumbuhan. Sesuai dengan fungsinya, jaringan epidermis tersusun atas sel–sel yang rapat dan menutupi seluruh permukaan tubuh tumbuhan.

1.2.            Perbedaan Tanaman Monokotil dan Dikotil
Berdasarkan pengamatan pada akar kacang tanah (dikotil) terlihat xylem mengumpul di bagian tengah silinder pusat, tersusun seperti bentuk bintang dengan empulur yang kecil atau tanpa empulur, sedangkan pada batang jagung (monokotil) terlihat xylem dan floem letaknya berselang-seling. Pada tumbuhan dikotil memiliki kambium yang berada diantara floem dan xylem. Hal ini sependapat dengan Sutrisna (2006) yang menyatakan bahwa pada batang dikotil, antara xylem dan floem terdapat jaringan kambium, yang kemudian disebut kambium vaskuler. Dengan adanya kambium vaskuler, batang tumbuhan dikotil dapat tumbuh membesar. Sedangkan pada tumbuhan monokotil tidak memiliki kambium. Hal ini sependapat dengan Irianto (2008) yang menyatakan bahwa batang monokotil umumnya tidak bercabang, tidak berkambium, dan beruas-ruas.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.            Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum pengenalan jaringan tumbuhan dapat diketahui bahwa pada tanaman jagung (Zea mays) terlihat xylemfloem dan epidermis, sedangkan pada tanaman kacang (Arachis hipogea) dapat terlihat epidermis, korteks, perisikel, endodermis, floem dan xylem. Berdasarkan perbedaannya dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung (Zea mays) merupakan monokotil dan kacang tanah (Arachis hipogea) merupakan dikotil adalah pengaturan jaringan di dalam stele, kumpulan jaringan pembuluh, yang berbentuk suatu silinder dalam akar. Xylem dan floem juga bergantian didalam stele akar monokotil. Akan tetapi jaringan pembuluhnya mengelilingi suatu pusat dari sel-sel parenkim yang disebut empulur. Pada tumbuhan dikotil dan monokotil stele dikelilingi oleh endodermis, daerah paling dalam sel-sel korteks.
                                                                                                          
4.2.            Saran
Penulis mengajukan saran bahwa didalam melakukan praktikum harus mengefesiensikan waktu, ketepatan dan ketelitian dalam pengamatan. Penggunaan alat-alat yang digunakan dalam praktikum harus hati-hati karena terbatasnya peralatan.

DAFTAR PUSTAKA
Arisworo, D., Yusa, dan Nana Sutrisna. 2006. Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VIII Jilid 2. Grafindo Media Pratama: Jakarta.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima-Jilid 1. Erlangga: Jakarta.

Wasis dan Sugeng Yuli Iriyanto. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTs Kelas VIII. Grasindo: Jakarta
Wasis dan Sugeng Yuli Iriyanto. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTs Kelas VIII. Grasindo: Jakarta